KAYA BUATAN DAN KAYA ALAMI
Siapa yang tak ingin atau mimpi jadi kaya raya atau kaya lewat internet? Jawabannya adalah tentu tidak. Semu ingin kaya raya. Bahkan ada mainan atao omongan orang dan mungkin juga pepatah yang mengatakan bahwa muda kaya raya, tua sejahtera dan mati masuk surga. Untuk urusan harta, banyak yang membuat berita ataupun kajian tentang kaya.Sangat rajin mewartakan hasil pengamatan mereka di seluruh dunia. Lalu, siapa sebenarnya orang kaya itu? kita bisa simak dan ikuti perkembangan Era atau zaman,bahwa pada saat ini economi indonesia kembang kempis.
Sedikit agak ilmiah, ada beberapa pendekatan kuantitatif yang sering dipakai untuk mengukur kekayaan yakni dari sebaliknya: kemiskinan. Teori ekonomi aliran liberalistik mengagungkan yang banyak itu baik. Semakin banyak harta (diukur dari pendapatan per kapita dan dalam ukuran mata uang dollar Amerika Serikat) akan diketahui derajat manusia itu. Aliran pemikiran besar lain menyakini bahwa sama rata dan sama rasa adalah yang terbaik. Negara kita, Indonesia, bahkan sering disebut sebagai jamrud katulistiwa karena kekayaan sumber alam dan budaya masyarakatnya yang sangat strategis. Tapi itu baru di dalam buku cerita anak atau syair lagu. Kenyataan yang dirasakan masih jauh panggang dari apinya. Apa yang terjadi di balik itu? Banyak orang yang korupsi,coba memikirkan orang orang miskin anak yatim yang harus disantuni tetapi orang kaya banyak yang menyalagunakan hartanya.
Orang yang kaya ( kaya buatan )pada umumnya banyak yang merasa angkuh dan itu bisa bisa kita nilai dari mana asal kekayaan mereka.sedangkan orang yang kaya alami (kaya turun temurun)jarang ada yang angkuh sebab mereka hidupnya tenang dibanding orang yang kaya buatan.
Jawaban atas pertanyaan itu bisa beraneka ragam. Sumber alam dan budaya yang sangat banyak tsb tidak diberdayakan selayaknya. Penggundulan hutan serta pengerukan bahan galian dan mineral yang berlebih tanpa kendali regulasi jelas dan kuat adalah sebagian dari penyebab ketidakberdayaan kita menikmati anugerah Illahi. Masyarakat bangsa Indonesia masih digolongkan sebagai kaum miskin.
Pada kasus Gayus Tambunan, pegawai negeri sipil golongan rendah di lingkungan Direktorat Jendral Pajak ini punya kekayaan melebihi Presiden RI yang menjadi simbol puncak kekuasaan pemerintahan Negara. Sang penasihat hukum dan pembela kasus dirinya, Bang Buyung Nasution, berulang kali menyatakan di depan publik bahwa ada praktik mafia peradilan yang harus diungkap dan diselesaikan secara tuntas. Yang menarik dari kasus ini adalah perlakuan kepada terdakwa. Jika Gayus yang jelas jadi penghianat saja masih mendapat perlakuan istimewa karena harta kekayaannya mampu membeli fasilitas ekstra buat terpenjara di lingkungan dengan penjagaan ketat dan dalam pengawasan publik. Berwisata ke pulau Bali memonton pertandingan tennis dll.
Kesempatan serupa atau jauh lebih kecil tidak didapatkan dari nenek Ijah yang mencuri buah kakao buat makan. Atau janda pejuang kemerdekaan tergusur dari rumah tinggalnya. Hal serupa terjadi pada kasus TKW Sumiati dan tak jauh beda dari soal pengenaan pajak bagi warung bagi masyarakat golongan ekonomi lemah ini. Singkat kata, apapun alasan dalam logika hukum acara kita saat ini, nuansa jaman penjajahan yang ditandai oleh pendekatan kekuasaan yang mengedepankan kekuatan fisik dan senjata dari pada pendekatan sosial yang bercirikan kemanusiaan adil dan beradab.
Segala macam bentuk usaha orang demi mendapatkan uang,apakah dengan cara korup atau mencuri,tapi cara yang satu ini sangat ampuh,tidak perlu bangun pagi mau ke kantor atau kemana,cukup kerjakan di rumah atau dalam kamar setiap hari dalam 45 menit saldo rekening bank anda bisa bertambah dengan sendirinya.Bergabunglah di sepuluhribu com pasti bisa jadi jutawan.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar